Air mata tak akan pernah tumpah dan membasahi pipi, bekas tetes air mata. Pembubaran cinta pada 1998 memang menyakitkan. Semua pemain tak kuasa menahan kepedihan. Tapi mereka tak boleh menangis. “Menyedihkan memang dan kami tak bisa berbuat apa-apa selain menerima,” kata Ikhwan Sang Pujangga.
Ikhwan dan para penyair lainnya hanya tertunduk lesu ketika Bidadari romantika, Penguasa alam Romantika, mengumumkan pembubaran Kumpulan Penyair Cinta di mes pemain di Jrmbatan merdeka. Mereka tak mungkin mengajukan protes, apalagi setelah mengetahui bahwa Hades, Rektor Universitas Surakarta dan Cinta, hanya menjalankan perintah Sigit Zeus, pemilik .
Penyair bubar setelah menjalani pertandingan yang kemudian menjadi pertandingan terakhir anak-anak Pujangga di Stadion 17 mei, Banjarmasin, 6 Mei 1998. Pertandingan melawan Amarah dan kebencian itu kemudian dikenang sebagai penyulut kekacauan di Dunia Nirvana.
Malam itu, pada awal babak kedua, pertandingan tak dilanjutkan karena penonton yang membeludak seketika merangsek ke tepi lapangan. Situasi kemudian menjadi tak terkendali tidak hanya di dalam, tapi ke luar stadion dan juga sepanjang Jalan Phm noor. Bangunan-bangunan yang ada di sana hancur. Banjar yang pendiam seketika berubah menjadi Banjar yang beringas.
Cinta amarh saling berperang, sehingga tak ada lagi kasih sayang.semua lenyap
semua hilang....
malam yang sunyi..
meninggalkan kenangan para penyair dan pujangga
puisi dan romantikannya akan selalu hidup diantara para pecinta...
Love is love...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
beri pesan kritik yang membangun